Kemerdekaan untuk Apa? Dan Siapa?
Akhirnya, film terbaik Bapak Perfilman Indonesia Usmar Ismail, Lewat Djam Malam, selesai direstorasi di Italia dan bisa disaksikan oleh generasi baru penonton bioskop. Tentu ada yang istimewa sampai dua lembaga besar asing, National Museum of Singapore dan World Cinema Foundation yang diketuai Martin Scorsese, antusias membiayai penyelamatan salah satu kekayaan budaya penting Indonesia yang disia-siakan di negerinya sendiri ini.
Resensi "Soegija"
Soegija Hanya Sebatas Nama
Sia-sia melihat Soegija sebagai film biopik. Film panjang ke-12 yang disutradarai Garin Nugroho ini tidak berusaha membangun tokoh utamanya secara utuh, tidak juga berniat ke arah sana. Adalah ungkapan pemikirannya, bukan sosok sang tokoh, yang hadir secara dominan dalam narasi film. Di shot pembuka film, terlihat ada sebuah buku catatan yang ditulisi Soegija. Kemudian terdengar sebuah narasi suara, “Kemanusiaan itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal usul, dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan sebuah keluarga besar.” Kutipan ini muncul lagi di penghujung film, mengikat keseluruhan film. Penonton tak mungkin tak memperhatikannya.
Sia-sia melihat Soegija sebagai film biopik. Film panjang ke-12 yang disutradarai Garin Nugroho ini tidak berusaha membangun tokoh utamanya secara utuh, tidak juga berniat ke arah sana. Adalah ungkapan pemikirannya, bukan sosok sang tokoh, yang hadir secara dominan dalam narasi film. Di shot pembuka film, terlihat ada sebuah buku catatan yang ditulisi Soegija. Kemudian terdengar sebuah narasi suara, “Kemanusiaan itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal usul, dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan sebuah keluarga besar.” Kutipan ini muncul lagi di penghujung film, mengikat keseluruhan film. Penonton tak mungkin tak memperhatikannya.
Resensi "Ambilkan Bulan"
AT Mahmud dan Romantisme Anak-anak
Sinema nasional kita belumlah menjadi tempat yang ramah bagi anak-anak. Dalam lima tahun terakhir, jumlah film panjang untuk konsumsi anak-anak tak pernah melewati angka lima setiap tahunnya, sementara horor, drama remaja, dan komedi dewasa terus-menerus mendominasi. Ini patut dipertanyakan. Industri perfilman nasional kita bisa bangkit berjalan lagi salah satunya berkat Petualangan Sherina, yang sukses menarik anak-anak dan keluarga ke bioskop tahun 1999 silam. Maju satu dekade kemudian, kita mendapati bioskop-bioskop yang nyaris steril dari film lokal untuk anak-anak.
Sinema nasional kita belumlah menjadi tempat yang ramah bagi anak-anak. Dalam lima tahun terakhir, jumlah film panjang untuk konsumsi anak-anak tak pernah melewati angka lima setiap tahunnya, sementara horor, drama remaja, dan komedi dewasa terus-menerus mendominasi. Ini patut dipertanyakan. Industri perfilman nasional kita bisa bangkit berjalan lagi salah satunya berkat Petualangan Sherina, yang sukses menarik anak-anak dan keluarga ke bioskop tahun 1999 silam. Maju satu dekade kemudian, kita mendapati bioskop-bioskop yang nyaris steril dari film lokal untuk anak-anak.
Resensi "Brandal-Brandal Ciliwung"
Parabel Kebangsaan yang Dipaksaka
Pertanyaan yang muncul seusai menonton Brandal-brandal Ciliwung: ada apa dengan film anak-anak Indonesia belakangan ini? Kenapa kita harus membebani cerita anak-anak dengan wacana kebangsaan? Tak bisakah kita bercerita dunia anak-anak murni dari perspektif mereka saja?
Film anak-anak Indonesia dua tahun terakhir ini banyak sekali yang terasa seperti parabel kebangsaan. Brandal-brandal Ciliwung adalah bagian dari trend tersebut. Gagasannya: bangsa Indonesia itu beragam, dan solusi untuk semua masalah adalah dengan toleransi satu sama lain serta gotong royong untuk satu tujuan bersama. Kemasannya: protagonis tergabung dalam satu kelompok yang berisikan anak-anak berbeda etnis, sementara kelompok lain di luar mereka tak punya penanda kultural tertentu. Konflik cerita bisa datang dari internal kelompok yang beragam, bisa juga dari interaksi dengan kelompok lain yang generik itu.
Pertanyaan yang muncul seusai menonton Brandal-brandal Ciliwung: ada apa dengan film anak-anak Indonesia belakangan ini? Kenapa kita harus membebani cerita anak-anak dengan wacana kebangsaan? Tak bisakah kita bercerita dunia anak-anak murni dari perspektif mereka saja?
Film anak-anak Indonesia dua tahun terakhir ini banyak sekali yang terasa seperti parabel kebangsaan. Brandal-brandal Ciliwung adalah bagian dari trend tersebut. Gagasannya: bangsa Indonesia itu beragam, dan solusi untuk semua masalah adalah dengan toleransi satu sama lain serta gotong royong untuk satu tujuan bersama. Kemasannya: protagonis tergabung dalam satu kelompok yang berisikan anak-anak berbeda etnis, sementara kelompok lain di luar mereka tak punya penanda kultural tertentu. Konflik cerita bisa datang dari internal kelompok yang beragam, bisa juga dari interaksi dengan kelompok lain yang generik itu.
Langganan:
Postingan (Atom)